KOMPARASI ALAT PENILAIAN SERTIFIKASI BANGUNAN HIJAU GREENSHIP DAN LEED (STUDI KASUS GEDUNG KULIAH B FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS, UNIVERSITAS LAMPUNG)

Authors

  • Rizqi Stiowati Universitas Lampung, Indonesia
  • Nugroho Ifadianto Universitas Lampung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.22441/vitruvian.2025.v15i2.006

Keywords:

GREENSHIP, LEED, bangunan hijau, keberlanjutan, penilaian bangunan

Abstract

Isu pemanasan global dan tingginya konsumsi energi pada sektor konstruksi mendorong pentingnya penerapan konsep green building, khususnya pada bangunan pendidikan. Gedung Kuliah B Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung yang baru dibangun menjadi objek yang relevan untuk dianalisis keberlanjutannya berdasarkan alat penilaian sertifikasi bangunan hijau. Analisis ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perancangan kampus yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan alat penilaian sertifikasi bangunan hijau antara GREENSHIP untuk Gedung Terbangun Versi 1.1 (Existing Building/EB) dari Indonesia dan LEED for Building Design and Construction (LEED BD+C) dari Amerika Serikat, serta mengevaluasi penerapannya pada Gedung Kuliah B. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif komparatif dengan desain studi kasus kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola gedung, dan studi literatur terhadap dokumen serta standar terkait. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang kemudian divalidasi menggunakan triangulasi sumber dan metode. Fokus utama penelitian ini adalah membandingkan aspek teknis dalam kedua alat penilaian, meliputi efisiensi energi, konservasi air, kualitas udara dalam ruangan, penggunaan material, serta manajemen lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gedung B telah memenuhi beberapa aspek dasar keberlanjutan seperti pencahayaan alami, area hijau, dan pengelolaan sampah. Namun, terdapat kekurangan pada konservasi air, energi terbarukan, dan pengendalian iklim mikro. GREENSHIP lebih menitikberatkan pada efisiensi lokal dan manajemen tapak, sedangkan LEED menekankan inovasi dan isu lingkungan global.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

Rizqi Stiowati, Universitas Lampung

Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik

Nugroho Ifadianto, Universitas Lampung

Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik

References

Karuniastuti, N. (2016). Bangunan ramah lingkungan. Forum Teknologi, 5(1), 8–15. https://ejurnal.ppsdmmigas.esdm.go.id/sp/index.php/swarapatra/article/view/110

Polli, G. H. B. (2020). A comparison of European environmental sustainability rating systems: BREEAM UK, DGNB, LiderA, ITACA, and HQE. U.Porto Journal of Engineering, 6(2), 46–58.

Hussain, S., & Sheikh, H. A. (2023). Sustainability assessment by green building rating systems: A comparative analysis of LEED, BREEAM, and CASBEE on a case study. Sustainability, 5.

Mahdi. (2024). Mengenal standar sertifikasi bangunan hijau (green buildings certification). Retrieved from https://www.djkn.kemenkeu.go.id

Pemerintah Kota Bandar Lampung. (2011). Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011-2030. Bandar Lampung: Pemerintah Kota Bandar Lampung.

Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2017 tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum.

Hafiz, A. F. (2019). Penilaian kriteria green building kategori tepat guna lahan, konservasi air, dan manajemen lingkungan bangunan pada Gedung CCR IPB (Unpublished bachelor’s thesis). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Alfiana, M. D. (2017). Analisis aspek sumber dan siklus material green construction pada proyek apartemen Grand Kamala Lagoon, Bekasi (Unpublished bachelor’s thesis). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Trisnawati, U., Mulyani, E., & Rafie, R. (2020). Analisis kriteria green building pada gedung laboratorium terpadu IAIN Pontianak

(Unpublished bachelor’s thesis). Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2017).

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pemerintah Republik Indonesia. (2002). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Departemen Pekerjaan Umum. (2008). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. (2001). SNI 03-6572-2001: Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. (2000). SNI 03-6197-2000: Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. (2000). SNI 03-6386-2000: Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Kementerian Lingkungan Hidup. (1996). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Kementerian Pekerjaan Umum. (2011). SNI 6390:2011 — Konservasi Energi pada Sistem Tata Udara di Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Published

2025-07-25

How to Cite

1.
Stiowati R, Ifadianto N. KOMPARASI ALAT PENILAIAN SERTIFIKASI BANGUNAN HIJAU GREENSHIP DAN LEED (STUDI KASUS GEDUNG KULIAH B FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS, UNIVERSITAS LAMPUNG). Vitruvian [Internet]. 2025 Jul. 25 [cited 2026 Jun. 28];15(2):167-78. Available from: https://publikasi.mercubuana.ac.id/index.php/virtuvian/article/view/31123

Issue

Section

Articles